Stay in touch
Subscribe to our RSS!
Oh c'mon
Bookmark us!
Have a question?
Get an answer!

Feature Title‎ 1

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat... Read More

Feature Title‎ 2

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat... Read More

Feature Title‎ 3

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat... Read More

Feature Title‎ 4

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat... Read More

Feature Title‎ 5

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat... Read More

Tampilkan postingan dengan label Novel. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 Mei 2014

Habibie & Ainun ^^

0 comments

7 Hikmah dari film Habibie & Ainun "Banyak hal yang bisa dipelajari"

Kita mungkin memang harus jalan sendiri-sendiri…
Bila dirimu belumlah yakin
Dan diriku belum baik untukmu


Kita mungkin memang harus jalan sendiri-sendiri…
Bila cuma ada luka yg tercipta
Dan debat yang tak berkesudahan


Kita mungkin memang harus jalan sendiri-sendiri…
Waktu yg akan mendewasakan kita
Dan dalam waktu kita introspeksi diri


Kita mungkin bisa jalan beriringan…
Bila kamu adalah orang yg tepat, aku orang yang tepat
Dan Tuhan telah mempertemukan hati kita lagi di waktu yang tepat

1. Ada Garis Batas Tipis Antara Benci dan Cinta
Habibie dan Ainun pada mulanya adalah siswa yang bersaing satu sama lain di kelas.
Rudy- panggilan akrab Habibie, pada awalnya malu, “dijodohkan” dengan Ainun dan menjadi bahan candaan teman-temannya di kelas.
Sebelum pergi ke Jerman pun Habibie pernah berkata “Ainun, kamu jelek dan hitam sekali, seperti gula jawa!” karena hasutan teman-temannya.

2. Jodoh Takkan ke mana dan kalau memang jodoh, jalannya akan mudah.

Terpisah tujuh tahun karena Rudy melanjutkan sekolah dan karir di Jerman.
Selalu ada skenario Tuhan dalam mempertemukan mereka kembali.
Begitu pulang ke Indonesia 7 Maret 1962 semua berjalan mengalir, mudah dan begitu cepat.
Ketika itu, banyak yang mendekati Ainun, dari berbagai latar belakang. Rata-rata berasal dari keluarga yang jauh lebih berada daripada Habibie.
Mereka naik mobil, habibie naik becak. Pemuda asli pare-pare ini tampil apa adanya. Dan kita sudah lihat, siapa yang pada akhitnya jadi juara.

3. Tak Sekedar Jatuh Cinta Tapi Juga Membangun Cinta
Pertemuan di Ranggamalela Bandung memang menjadi titik awal benih cinta diantara mereka tumbuh.
Benih cinta tersebut tak hanya dibiarkan tumbuh tetapi juga dirawat dengan ketulusan, penuh kasih, janji, serta komitmen yang ditepati bersama.
Romantisme-romantisme kecil kerap digambarkan mewarnai kebersamaan mereka setiap harinya. Habibie kerap kali mencium kening Ainun dengan begitu mesra.
Saat Ainun cemburu pun, Prof.DR.Ing itu kerap berkata bahwa Ainun tetaplah yang tercantik bagi dirinya.
“Ainun, saya tidak bisa menjanjikan kepadamu banyak hal. Seperti mobil, rumah, dengan segala kehidupan yang (langsung) mapan di Jerman. Tapi saya janji, akan menjadi suami terbaik untukmu”
Mau kah Ainun ikut saya ke Jerman? menemani saya sebagai teman hidup?
Ainun pun menjawab:
Rudy, aku pun tak bisa menjanjikan kalau saya selalu jadi istri yang baik, tapi.. aku berjanji akan menemanimu ke manapun kamu pergi.
Dialog ditengah hujan, perjalanan pulang di dalam becak yang apa adanya ini, terasa begitu romantis.
Mereka batal bercumbu mesra, karna tirai penutup becak keburu dibuka. Sudah sampai rumah, ceritanya.

4. Mereka Berbeda, Namun Punya Titik Temu.
Habibie yang jenius namun keras kepala. Meledak-ledak, sanguin yang romantis dan logis.
Pribadi demikian membutuhkan sosok penyeimbang.

Itu semua ada di Ainun, yang cerdas, cekatan, perasa perfeksionis, tenang dan sabar.
Habibie takkan lengkap tanpa Ainun dan sebaliknya. Mereka berdua hebat sebagai tim. Patner hidup terbaik satu sama lain.

5. Mereka Disatukan oleh Mimpi yang sama dan saling mendukung satu sama lain dikala suka duka kehidupan.
Yang melatar belakangi keinginan Ainun untuk menjadi dokter adalah saat ibunya menggendong bayi laki-laki yang baru saja lahir menyelamatkan diri dalam perang. Penuh bercak darah.
Sementara Habibie, bersumpah saat Ia sakit keras di Aachen. Bahwa dia akan pulang suatu saat nanti dan berbakti untuk ibu pertiwi.
Keduanya serupa. Berbakti untuk negeri.
Di kala Ainun nyaris menyerah saat menemani perjuangan Habibie di awal karirnya, habibie berujar:
“Hidup ini ibarat sebuah kereta, melewati terowongan yang gelap. Bahkan kita tak tau seberapa panjang kegelapan itu.
Tapi percayalah Ainun, di ujung sana ada cahaya terang (kesuksesan) dan saya akan membawamu ke cahaya itu.”
Hal serupa juga dilakukan Ainun. Saat Habibie putus asa ketika menerima surat balasan dari Ibnu Sutowo.
Surat tersebut berisi keinginan Habibie untuk pulang dan mengembangkan! industri strategis di tanah air.
Ainun berusaha membesarkan hati kekasihnya dengan berujar:
“Loh, isi surat itu kan bukan penolakan,mereka bilang industrinya belum siap.”,Ujarnya sembari tersenyum manis.

6. Mereka Manunggal Sebagai satu kesatuan secara bathin, pikiran, dan jiwa
Salah satu momen paling mengharukan adalah saat Habibie dilarang masuk oleh petugas ICCU.
“Ainun, mengapa kamu tampak sedih? Karena sakitkah?”
Ainun menggelengkan kepala. Saat ditanya dengan pertanyaan lain, masih juga menggelengkan kepala.
Sampai akhirnya isyarat anggukan kepala itu ada saat Habibie bertanya: “Kamu sedih gara-gara mengkhawatirkan saya?”
Ainun yang sedang sakit keras, dengan puluhan alat medis terhubung ke tubuhnya masih saja memikirkan kondisi sang belahan jiwa.
Menjelang Ainun wafat pun habibie dengan lembut berujar.
“Ainun, hari ini 12 Mei 2010. Selamat hari ulang tahun pernikahan yang ke 48. Tuhan terima kasih saya sudah terlahir untuk Ainun dan Ainun terlahir untuk saya.”
Tak terasa, pipi saya tiba-tiba basah. Cinta diantara mereka berdua begitu tulus, suci, murni, dan abadi.

7. Luangkanlah Waktu Untuk Orang-Orang yang Kita Cintai
Enam poin pujian, satu poin renungan. Tamparan besar di muka saya adalah saat adegan Habibie kembali mengunjungi IPTN.
Mendapati salah satu karya sekaligus mimpi besarnya sejak lama: CN 235 Gatot Kaca, akhirnya terbengkalai.
“Mengapa mereka tak juga sadar dengan potensi CN 235 ini. Bayangkan jika banyak pulau kecil di Nusantara terhubung.
Seberapa besar ekonomi akan tergerak, kemajuan yang akan kita rasakan dll”

Di sini Ainun masih juga membesarkan hati suaminya.
“Sudahlah, masih banyak cara untuk berbakti kepada ibu pertiwi..”
“Bukan itu!”, jawab Habibie.
“Berapa banyak waktumu dan anak-anak yang dikorbankan karena ini!”, jawabnya lantang namun kemudian menangis di pundak istri tercinta.
Tamparan, keras. Dahsyat. Di depan mukaku. Ya, sekaya apapun, waktu tak kan pernah bisa kita beli dan tentu, tak kan bisa diputar kembali.

Di saat Habibie terbaring seorang diri di sebuah RS, ia  menuliskan sumpah yang kira-kira seperti ini:
Terlentang ! Jatuh ! Perih ! Kesal ! 
Ibu pertiwi Engkau pegangan

Dalam perjalanan

janji Pusaka dan Sakti
Tanah Tumpa daraku makmur dan suci…
…….
Hancur badan !
Tetap berjalan !
Jiwa Besar dan Suci
Membawa aku PADAMU

Kesimpulan dari film ini,:  Kesetiaan hanya milik lelaki cerdas. Ketika kita tidak bisa menilai sejauh mana kecerdasan lelaki yang kita pilih, maka jadilah perempuan yang cerdas. Bukankah Tuhan itu adil. Yang cerdas kan berjodoh dengan yang cerdas juga. Begitu juga sebaliknya. Seorang lelaki cerdas takkan mau membuang waktu sedetikpun untuk hidup dengan perempuan lemot. Miris ketika kecerdasan hanya dilihat dari kesarjanaan, pekerjaan yang mapan dan uang yang banyak. Padahal cerdas itu ya berwawasan luas, termasuk memahami konsep ketuhanan juga, walau dia nggak sarjana dan hidupnya pas-pasan. Karena kecerdasannya, manusia akan makin beriman, hidupnya berkah, dan pastinya setia.
Perempuan, mari kita terus belajar, mari kita terus berkarya...

Read More →

Selasa, 06 Agustus 2013

Sunset bersama Rosie

0 comments
Pengen baca novel yang ini juga...(‾˛‾")ƪ

Novel karya Tere Liye ini bercerita tentang seorang Tegar yang terjebak dalam situasi dan pilihan yang sangat sulit. Situasi yang dia hadapi mengharuskan dia memilih antara masa lalu atau masa depan. Kepada siapa dia akan melabuhkan cintanya. Apakah Rosie, sahabat Tegar dari kecil yang lebih memilih Nathan sebagai pasangan hidupnya atau Sekar, seorang gadis yang sangat mencintai Tegar dan sabar menunggunya.

Patah hati, hancurlah hati Tegar ketika dia tahu bahwa Rosie menerima cinta Nathan yang baru dua bulan mengenal Rosie tepat disaat mereka di puncak gunung Rinjani. Tegarlah yang mengenalkan Nathan pada Rosie. Nathan adalah sahabat terbaik Tegar sejak SD. Semenjak kejadian di gunung rinjani itu, Tegar tidak pernah lagi muncul dihadapan mereka berdua. Dia menghilang bak ditelan bumi. Tak ada kabar tentang keberadaan Tegar. Hingga akhirnya selepas Rosie dan Nathan wisuda, mereka menikah.


Tegar mulai bisa berdamai dengan hatinya dan seketika rasa sakit yang dulu dia rasakan hilang disaat dia melihat dua putri Rosie, Anggrek dan Sakura datang ke Apartemen Tegar dan memanggilnya Om. Tegar juga telah memutuskan untuk menerima Sekar dalam hidupnya dan berencana untuk bertunangan.


Tapi itu semua hancur berantakan hanya dalam hitungan detik saja. Kejadian bom di Jimbaran yang telah merenggut nyawa Nathan adalah pangkal dari masalah yang harus dihadapi Tegar. Akibat kejadian itu, Tegar akhirnya membatalkan pertunangannya dengan Sekar dan terbang ke Jimbaran untuk memastikan keadaan keluarga Rosie.

Rosie depresi dan harus dirawat di shelter dan meninggalkan empat anaknya. Anggrek, Sakura, Jasmine, dan juga Lili yang masih berumur satu tahun. Tegar yang hanya satu-satunya kerabat Rosie selain Oma memutuskan untuk menjaga dan merawat keempat kuntum Rosie dan Nathan dan meninggalkan semua aktivitas juga pekerjaannya di Jakarta dan pindah ke Gili Trawangan, tempat dimana Rosie dan Tegar tinggal.

Dua tahun Rosie dirawat di Shelter, dan selama itu pula Tegar tidak pernah menghubungi Sekar. Hingga suatu saat, ketika Rosie sembuh dan berkumpul bersama anak-anaknya, Tegar mendapat kabar dari Linda, mantan sekertarisnya di Jakarta yang mengabarkan bahwa Sekar akan bertunangan dengan laki-laki yang tidak dia cintai. Mendengar kabar tersebut Tegar langsung mendatangi rumah Sekar dan meminta Sekar untuk memberinya kesempatan sekali lagi. 

Sekar membatalkan pertunangannya dan memilih Tegar. Sekar sudah membuat kesempatan dengan tangannya sendiri. Sekarang tinggal Tegar yang berperan. Tegar memutuskan untuk menikahi Sekar. Dia harus memikirkan cara untuk berbicara kepada anak-anak Rosie bahwa Paman terhebat dan keren mereka tidak bisa tinggal bersama mereka di Gili Trawangan. Disaat inilah Oma berbicara, Oma menceritakan kejadian masa lalu yang tidak diketahui Tegar. Pernikahan Rosie dan Nathan sempat ditunda enam bulan karena menunggu Tegar. Rosie mencintai Tegar.

Keputusan sudah Tegar ambil, dia tetap memutuskan untuk menikahi Sekar, gadis yang sangat mencintainya dan dia juga mencintai gadis itu. Meskipun Tegar masih mencintai Rosie dan anak-anaknya tapi itu dengan pengertian cinta yang berbeda.

Tibalah di acara pernikahan Tegar dan Sekar, disaat mereka berdua sedang melangkah bergandengan tangan ke tengah ruangan, disaat itu pula Lili anak terkecil Rosie berlari dan memeluk kaki Tegar. Dia akhirnya berbicara setelah 2 tahun dia enggan berbicara dengan siapapun kecuali dengan Jasmin.
Kata-kata Lili lah yang akhirnya membuat Sekar meminta Tegar untuk menikahi Rosie.

Tak ada jawaban yang pasti dalam Novel Tere Liye ini. Dia memberikan pertanyaan yang entah apa jawabannya. Apakah Tegar akan menikahi Rosie atau tetap menikahi Sekar.
Tere Liye sudah berhasil mengubek-ubek emosi pembaca. Tawa, airmata, haru bercambur baur ketika novel ini dibaca. Banyak peljaran berharga yang bisa diambil dari kisah ini.

Read More →

Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin

0 comments
Pengen baca novel ini ... (‾˛‾")ƪ. This is sekedar resensi...

 


Daun yang jatuh tak pernah membenci angin...

Biarlah aku luruh ke bumi seperti sehelai daun... daun yang tidak pernah membenci angin meski harus tereggutkan dari tangkai pohonnya.

Itu adalah barisan kata yang terdapat dalam buku Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin karangan Tere Liye. Dewasa ini, Tere Liye telah dikenal sebagai novelis yang hasil karyanya mampu menyentuh para pecinta novel. Cerita novelnya yang ringan namun tetap padat, berisi manfaat serta pesan moral yang beranjak pada kejadian di kehidupan sehari-hari pembaca.

Novel roman ini, berisikan konflik di kehidupan seorang manusia yang disajikan secara ringan. Cerita seputar percintaan, kasih sayang, persaudaraan dan pertemanan. Berkisah tentang seorang gadis bernama Tania dengan segala permasalahannya. Keluarga Tania adalah keluarga miskin yang selama tiga tahun hidup di sebuah lahan kosong pinggiran kota Depok, beralaskan dan beratapkan kardus, dengan sebuah pohon linden pada halamannya. Berawal dari kisah masa kecilnya yang sulit, dia harus menjalani hidup sebagai pengamen ibukota. Bersama adiknya, Dede, menyanyikan lagu sambil memainkan kecrengan dari satu bis kota ke bis kota lain. Ketiadaan ayah sedari mereka balita yang membuat hidup mereka sulit. Sampai suatu ketika nasib mereka berubah, saat Tuhan menyampaikan takdirnya lewat seorang penumpang bis kota yang selanjutnya dijuluki malaikat oleh dua kakak beradik ini. Danar, lelaki berusia 20 tahunan yang mereka temui di bis kota. Danar adalah nasib baik dan dia juga akan menjadi tokoh dalam kisah cinta Tania. 

Danar yang sedari kecil tidak memiliki keluarga merasa sangat senang bertemu dengan keluarga Tania. Apalagi ibu, dia mengganggap ibu sebagai ibunya sendiri. Mencium tangannya, memberikan modal untuk membuat usaha kue dan mengajak Tania dan Dede kembali ke bangku sekolah. Dia pun menyatakan kesanggupannya untuk membiayai kehidupan keluarga ini. Kebaikannya terus dia berikan hingga kedua anak itu beranjak dewasa.

Beberapa tahun kemudian, ketika usia mereka bahkan belum memasuki usia remaja, sang ibu menyusul kematian sang ayah. Pesan menyentuh disampaikan oleh ibu Tania sebelum meninggal yaitu bahwa Tania tidak boleh menangis untuk hal apapun dan dalam kondisi sesulit apapun. Tania hanya boleh menangis untuk dia, si malaikat penolong mereka.

Hingga saat dewasa, Tania semakin mampu membuktikan bahwa hidupnya telah sukses, dengan bekerja pada sebuah perusahaan pialang terkemuka di Singapura. Sejak zaman sekolah Tania telah menjadi idola, tetapi tetap saja dia mengganggap semuanya biasa karena hatinya hanya milik Danar. Kisah cinta itu tak pernah tersampaikan karena alasan jarak umur yang memisahkan keduanya, karena hutang budi yang tak pernah habis membuatnya segan terhadap malaikatnya.

Ketika panggilan om berubah menjadi kak’, rasa cinta yang muncul sejak Tania berusia 11 tahun itu semakin berkembang seiring dengan pertambahan umurnya. Walaupun Tania masih kecil saat itu, ternyata Danar telah memiliki perasaan yang sama dengan Tania, hanya saja dia tidak mau mengungkapkannya karena menganggap Tania seperti adik sendiri.

Bukti-bukti perasaan itu semakin kuat terlihat pada kunjungan Danar ke Singapura. Tanpa sepengetahuan Tania ternyata liontin yang dimiliki Tania adalah liontin spesial. Karena ternyata dibaliknya terdapat gambar potongan pohon linden yang juga terdapat pada liontin Danar. Hanya pada liontin mereka berdua. Pohon linden adalah pohon yang sangat berarti bagi cerita ini karena pohon tersebut tumbuh di halaman rumah kardus tempat dulu Tania sekeluarga tinggal.

Danar pun akhirnya menikah dengan Ratna namun wanita ini hanya menjadi pelarian perasaannya saja. Menyakitkan bagi Tania, pernikahan ini telah membuat hatinya hancur. Namun, pernikahan itu tidak pernah bahagia, Ratna merasa bahwa dia kalah oleh bayangan lain yang dicintai Danar. Tidak ada cinta sejak awal. Ratna selalu membagi keluh kesahnya kepada Tania yang sedang bekerja di Singapura lewat email. Hal ini membuat Tania yang telah mau memaafkan tersebut penasaran dan tidak terima dengan perlakuan Danar terhadap Ratna hingga akhirnya Tania memutuskan untuk pulang ke Jakarta.

Pada akhir cerita, Tania mulai berani untuk mengungkapkan perasaannya, menanyakan kepada Danar tentang perasaannya, tentang pernikahannya. Dan ternyata semua benar, Danar memiliki perasaan yang sama dengan Tania. Semua tidak pernah terungkap. Namun, memang cinta tak harus dimiliki oleh keduanya.


Read More →

Jumat, 02 Agustus 2013

♥ Moga Bunda Disayang Allah ♥

0 comments
Judul buku : Moga Bunda Disayang Allah
Resentator : (nama kamu)
Penulis : Tere Liye
Penerbit : Republika
Edisi : 5
Jumlah Halaman : 247 halaman




Penulis yang satu ini seakan menyembunyikan atau bisa dikatakan tak ingin memberitahukan tentang kepribadiannya secara jelas, berbeda dengan penulis novel pada umumnya. Terbukti dari semua novel yang telah ia buat, tak ada sekilas biodata penulis di halaman terakhir maupun sampul belakang novel-novelnya. Meski ia tidak memperkenalkan dirinya secara jelas namun karya-karyanya selalu menarik dan terkenal, salah satunya adalah novel berjudul “ Moga Bunda Disayang Allah ” .

Di dalam novel ini, Tere Liye menceritakan tentang seorang anak bernama Melati yang terlahir dengan rambut ikalyang mengombak, pipi yang tembam, mata hitam legam seperti biji buah leci dan gigi kecil bak gigi kelinci. Dia adalah anakdari orang tua yang terpandang di daerah tersebut. Orang tuanya, Tuan dan Nyonya HK begitu menyayangi putri kecilnya yang amat lucu dan menggemaskan itu.

Namun kebahagiaan mereka tak lama kemudian pupus ketika Melati mengalami kecelakaan yang membuat ia buta dan tuli total sebelum anak itu sempat mengenal benda, mengenal dunia, mengenal kata-kata bahkan mengenal Penciptanya. Doa dan harapan terus dipanjatkan oleh kedua orangtuanya, segala macam pengobatan telah dicoba untuk menolong anak kesayangannya. Tak hanya itu, pengasuh anak maupun psikolog anak yang digaji untuk mendekati dan berkomunikasi dengan Melati pun sudah banyak yang menyerah dengan Melati. Hingga akhirnya ia dipertemukan oleh Pak Guru Karang.

Karang adalah seorang pemuda biasa yang memiliki jiwa sosial yang luar biasa kepada anak – anak. Dalam cerita ini, sosok Karang mampu ikut merasakan perasaan anak-anak yang berdiri di depannnya. Ia dengan mudah dapat mendekati anak-anak dan juga mudah menarik perhatian anak-anak dengan kepandaiannya dalam bercerita. Karena kecintaannya dengan anak-anak dan juga kepandaiannya dalam hal bercerita, ia telah mendirikan ratusan taman bacaan untuk anak-anak di berbagai kawasan disekitar ibu kota.

Namun kali ini Karang merasa kesulitan dalam menghadapi Melati. Anak kecil yang hanya melihat gelap, hitam kosong tanpa warna.Hanya mendengar senyap sepi, tak ada nada. Tak hanya kekurangan yang di miliki Melati yang membuatnya merasa kesulitan, kesulitan itu semakin terasa karena masa lalu Karang yang begitu menyakitkan. Kecelakaan di laut yang dialaminya beberapa tahun silam menewaskan 18 anak didiknya, termasuk anak didik kesayangannya yang bernama Qintan. Kejadian tersebut membuat batin dan jiwanya sangat terpukul hingga merubah dirinya menjadi pemabuk,keluar di malam hari, mengurung diri di kamar kos milik Ibu Gendut dari pagi hingga sore hari.

Dengan permohonan Nyonya HK dan bujukan dari Ibu Gendut itu, Karang dapat menghiraukan rasa kesulitan itu menjadi semangat kembali dan berusaha menemukan bagaimana cara Karang agar Melati dapat mengenal segala yang belum ia kenal. Dan dengan kesabaran Karang dalam menghadapi Melati, akhirnya Allah memberikan mukzizat-Nya. Melati dapat mengenal dunianya melalui kedua telapak tangannya dan Karang juga berubah menjadi Karang yang dulu. Karang yang telah mengikhlaskan masa lalunya dan kembali menyayangi anak-anak dan membuka taman bacaannya lagi.

Kelebihan dari novel ini, penulis menggambarkan karakter Melati, Bunda dan Karang dalam peran yang terasa seimbang. sehingga tidak bisa dibedakan mana yang lebih pantas disebut sebagai tokoh utama. Ceritanya begitu menyentuh dan ketiga karakter tersebut memiliki jalan cerita masing-masing namun selalu berkaitan.

Karang yang rapuh karena dihantui oleh masa lalu dan Melati yang tak bisa mengenal dunianya karena kehilangan penglihatan dan pendengarannya diceritakan dengan runtut hingga akhirnya kedua tokoh ini dipertemukan dan menemukan jawaban atas penderitaan yang mereka alami

Kekurangan dalam novel ini terdapat pada gaya bahasa dari novel yang menggunakan bahasa sehari-hari yang tidak baku. Pilihan penulis dalam penempatan setting dan kegiatan pendukung dalam novel terasa kurang tepat. Dalam noveltersebut, semua tokoh digambarkan sebagai orang muslim namun pada akhir cerita menggambarkan suasana pesta kembang api yang dirayakan pada tahun baru Imlek oleh masyarakat termasuk para tokoh novel. Dan juga ada beberapa tokoh yang tidak terlalu jelas namanya seperti Tuan HK, Nyonya HK dan Ibu Gendut.
Read More →

Selasa, 02 Juli 2013

Khatam 5 cm :)

0 comments




Lama rasanya nggak mantengin blog tercinta ini, hehe
Pukul 23:48. Lagi nunggu nilai 1 mata kuliah yang belum keluar di semester 4 ini, semoga hasilnya baik. Aamiin °\(^^)/°

Novel telah berhasil terbaca, hehe “5 cm”. Jadi penasaran pingin lihat filmnya...
Sedikit banyak telah menggelitik aku, crita yang lucu, penuh makna dan inspiratif. Di awal-awal telah sukses dibuat ketawa oleh Ian yang dengan tingkah polanya saat skripsi, ngomong sendiri sama lepinya “Si kompibaiksekalitemenIan”. Hahahaha,
Read More →

Kamis, 27 Juni 2013

Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah

0 comments



Umurku dua belas, duduk di lorong rumah sakit sendirian, menangis terisak. Di ruangan berjarak sepuluh meter dariku, Bapak menunaikan kebaikan terakhir. Aku selalu tahu – sebagaimana seluruh penduduk tepian Kapuas tahu – Bapak adalah orang baik yang pernah kukenal. Aku tidak tahu apakah ubur-ubur yang membuatnya meninggal atau pisau bedah dokter. Dia boleh jadi masih bisa siuman, diselamatkan, bukan? Mukjizat bisa datang kapan saja, bukan?

Borno ~sang tokoh utama~ tak pernah memahami keputusan bapaknya yang dalam kondisi kritis menyetujui untuk mendonorkan jantungnya. Dia sangat menyesali keputusan doktor yang mengoperasi bapaknya, saat dia yakin bapaknya masih hidup.
Read More →

Sabtu, 01 Juni 2013

--Negeri Di Ujung Tanduk, novel paling baru Tere Liye (April 2013, Gramedia Pustaka Utama)

0 comments

“Kau tahu, Nak, sepotong intan terbaik dihasilkan dari dua hal, yaitu, suhu dan tekanan yang tinggi di perut bumi. Semakin tinggi suhu yang diterimanya, semakin tinggi tekanan yang diperolehnya, maka jika dia bisa bertahan, tidak hancur, dia justeru berubah menjadi intan yang berkilau tiada tara. Keras. Kokoh. Mahal harganya.

“Sama halnya dengan kehidupan, seluruh kejadian menyakitkan yang kita alami, semakin dalam dan menyedihkan rasannya, jika kita bisa bertahan, tidak hancur, maka kita akan tumbuh menjadi seseorang berkarakter laksana intan. Keras. Kokoh."

Read More →

Followers