Stay in touch
Subscribe to our RSS!
Oh c'mon
Bookmark us!
Have a question?
Get an answer!

Feature Title‎ 1

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat... Read More

Feature Title‎ 2

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat... Read More

Feature Title‎ 3

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat... Read More

Feature Title‎ 4

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat... Read More

Feature Title‎ 5

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat... Read More

Selasa, 21 Agustus 2012

share bacaan : BUAT APA SIH KULIAH ?????? #jangankuliah (MUST READ)

0 comments
#copast dari suatu sumber :)

Wajib dibaca sebelum komen, renungin, nilai isinya, praktekin :shakehand dan #selamat membaca

Memang apa sih kerennya jadi mahasiswa? Kamu pikir kamu keren kalau jadi mahasiswa? Dengan jas almamater yang heroik kamu jadi bisa kembali ke sekolah kamu dan berkata, “saya sekarang mahasiswa UNAIR loh” atau “ini nih lihat jaket kuning UI gw”.

Okey, itu memang salah satu bagian menyenangkan yang bisa dibanggakan, tapi kalo udah bangga, kamu mau apa? Apa yang kamu dapatkan dari kebanggaan tersebut?

‘seneng aja’

‘kepuasaan batin’

‘yah keren aja sih’

Ada lagi kah ?

Kamu udah yakin dengan pilihan jurusan dan kampus kamu? Sudah sesuai dengan panggilan jiwa belum? Atau kamui masih bohong sama diri kamu?

‘iya saya sudah yakin kok sama pilihan saya’

‘ah masa sih?, yakin? Itu kok muka masih belum pede tampaknya’

‘ya dibuat yakin dong, kan sudah keterima’

‘bener nih gak nyesel?’

‘emang ada pilihan lain kah?’

Kamu sudah jadi mahasiswa nih sekarang, lalu kamu mau jadikan titel kamu nanti untuk apa? Mau dijadikan apa titel yang kamu raih?

Sobat, kata rektor saya dulu, biaya standar untuk seorang sarjana pendidikan adalah Rp.28.000.000 setiap semesternya. Jumlah yang yang gak kecil loh, coba saya tanya berapa biaya kuliah? Dulu saya di ITB 1.850.000 per semesternya. Kabarnya sekarang sudah mencapai hingga 5 juta rupiah per semesternya. Okelah kita pakai standar sekarang saja, dan dengan asumsi biaya sarjananya tetap.

Dengan asumsi ini saja saya bisa mengatakan kalau dalam satu semester, minimal kita sudah memiliki hutang 23 juta per semesternya. Hutang? Pasti banyak yang bertanya, itu hutang ke siapa? Hutangnya ke Rakyat Indonesia kawan. Mereka yang bayar pajak itu telah mensubsidi kuliah kamu, khususnya buat kamu yang kuliah di kampus negeri.

Pendidikan yang berkualitas itu hakekatnya memang mahal, pertanyaannya siapa yang akan menanggung biaya pendidikan tersebut? Dalam kasus Indonesia, rakyatlah yang juga dibebankan untuk membiayai kuliah kita.

Saat pertama kali masuk ITB beberapa tahun yang lalu, seorang alumni yang sangat senior berbicara dalam sebuah sesi seminar.

“untuk masuk ITB, perbandingan tingkat kompetisinya adalah 1 banding 20. Artinya ketika kamu bahagia karena telah masuk ITB, ada 19 anak muda Indonesia lain yang menangis kecewa karena gagal diterima di ITB.

Kamu kuliah di subsidi oleh rakyat, maka untuk membalas budi pengorbanan uang yang telah rakyat berikan, kamu minimal harus bisa kasih makan ke 76 orang lainnya. Darimana angka 76 tersebut?

Kita asumsikan 19 orang tersebut menikah dan memiliki dua anak saja, maka itu berarti 19 dikali 4 yaitu 76 orang”

Kata-kata tersebut selalu terngiang di benak saya hingga saat ini, saya selalu berpikir dan mencari jalan bagaimana bisa membuka kesempatan menambah penghasilan bagi 76 orang. Tentu bukan hanya dengan membuka lapangan kerja dengan menjadi entrepreneur, banyak cara untuk bisa berbagi seperti dengan aktivitas sosial.

Bagaimanapun caranya, itulah yang perlu kita sama-sama pikirkan. Bahwa kamu jadi mahasiswa itu tidak mudah dan tidak bisa asal-asalan. Kamu perlu tanya ke diri kamu, “saya mau berkontribusi apa selama jadi mahasiswa dan setelah lulus untuk negeri ini?

Karena kuliah kamu bukan hanya menyangkut diri kamu, tetapi juga ratusan juta rakyat Indonesia di masa kini dan masa depan. Mahasiswa seringkali disebut sebagai unsur perbaikan negara, ya benar adanya kalimat tersebut. Karena ditangan mahasiswa yang nantinya akan masuk ke dunia nyata lah negeri ini bergantung harapan.

Kamu kuliah, kamu termasuk dalam 18% rakyat Indonesia usia 18-23 tahun yang beruntung bisa menikmati bangku di perguruan tinggi. Jumlahnya tidak sampai 4.5 juta saja mahasiswa itu. Maka renungkanlah nasih 78% rakyat Indonesia lainnya yang

Quote:

Karena kamu itu mahasiswa, ada kata MAHA di depan siswa. Maha itu identik dengan tidak terbatas dan tidak pernah habis. Perlu di ingat, bahwa penggunaan kata MAHA itu identik dengan sesuatu yang berhubungan dengan Tuhan (e.g Maha Pengasih,dan Maha Penyayang). Menariknya bahasa Inggris nya dari Mahasiswa adalah student, atau terkadang ditambahkan College Student. Bahasa arabnya mahasiswa adalah thulabiy, sama dengan siswa. Mereka tidak menggunakan terminologi Great Student atau AkbaruThulabiy sebagai kata ganti mahasiswa.

Hanya di Indonesia yang menggunakan pola kata seperti ini. Kenapa? Karena ada sebuah harapan khusus bagi mahasiswa Indonesia untuk bisa memiliki karakter seorang MahaSiswa, seorang yang tidak pernah terbatas hasratnya untuk bisa menuntut ilmu.

Dalam sebuah lirik lagu perjuangan kampus yang berjudul “Kampusku”, sang pengubah lagu menuliskan seperti ini:

Quote:

Berjuta Rakyat Menanti Tanganmu

Mereka Lapar dan Bau Keringat

Kusampaikan Salam Salam Perjuangan

Kami Semua Cinta Indonesia

Tapi kamu juga jangan terlalu Geer dulu dengan segala sanjungan untuk mahasiswa, itu gak sekeren itu kok, kadang malah cuma klise belaka. Saya malah berpikir terlalu banyak pujian untuk seorang yang menyandang label mahasiswa. Padahal jadi mahasiswa gak sekeren itu kok, apa sih mahasiswa? Belajar males, kajian kebangsaan cuek, demo di jalan gak mau, kegiatan pengembangan masyarakat juga gak peduli, bahkan fokus pada kompetensinya saja juga enggan.

Quote:

Apa sih mahasiswa itu? Cuma mampu mejeng dengan tampang keren, sok bawa mobil ke kampus padahal uang orang tua. Bergaya sana sini, ganti pacar tiap bulan, gak nyimak dosen di kelas, ke kampus dandannya udah seperti mau ke resepsi pernikahan.

Ngapain sih tuh mahasiswa? Selama empat tahun di kampus akhirnya gak aplikasi ilmunya, berpikir gimana ngasih makan dirinya saja, lupa kalau dia di bayarin rakyat saat kuliah, jadi manusia hedon yang lupa kalau masih banyak rakyat yang lapar dan bau keringat.

Ah mahasiswa, apa pentingnya? Cuma bisa kritik keadaan negeri tanpa mau berpikir apa yang bisa ia lakukan untuk negerinya. Hanya ribut diantara mahasiswa, bakar ban dan akhirnya rakyat lagi yang kembali menderita.

HEI KAMU YANG MENGAKU MAHASISWA !

Coba sekarang saya tanya buat kamu yang mau lulus kuliah, buat apa sih kamu kuliah? Abis kuliah mau kemana?

Quote:‘ikutin aja kemana angin membawa’

‘yah kita lihat nantilah gimana abis wisuda’

‘mau kerja dulu deh, sambil mikir mau ngapain setelahnya’

Umm. Okey, tidak ada yang salah dengan kalimat-kalimat tersebut. Tetapi kalimat-kalimat ini menandakan masih banyak diantara mahasiswa dan alumni muda yang bahkan tidak tau mau ngapain setelah lulus.

Helloooo

Dimana #panggilanjiwa kamu kawan? Masih belum berjumpakah dengan #panggilanjiwa kamu itu? Atau bahkan kamu tidak berusaha mencarinya?

Sobat,apakah dunia kampus belum cukup untuk kamu dalam mem-#bangunmimpi? Butuh berapa lama lagi untuk kamu agar bisa menemukan dan merencanakan mimpi besar kamu sobat? Atau jangan jangan kamu lebih nyaman dalam ketidakpastian mimpi kamu?

Mereka yang tidak punya mimpi akan terjebak pada kegalauan hidup, dan bila kegalauan hidup menemani mereka maka ketidakpastian akan menjadi sahabat, dan akhirnya berujung pada ketidakjelasan manfaat hidup itu sendiri.

APA KONTRIBUSI KAMU UNTUK NEGERI?

Percuma saja kamu kuliah kalau ternyata pilihan jurusannya bukan yang kamu minati, bohong dengan #panggilanjiwa hanya untuk mengejar titel di kampus negeri saja. Hidup itu bukan sekedar titel kamu di dapat dimana, tetapi kamu mau berbuat apa dengan titel tersebut untuk kebaikan dan kebermanfaatan.

Kamu pikir jadi alumni dari kampus beken itu terjamin masa depannya kawan? Saya justru banyak kenal teman, senior, dan junior saya di kampus yang luntang-luntung gak jelas karena penuh kegalauan dalam menatap masa depan. Mereka tidak membangun karakter diri selama jadi mahasiswa. Akibatnya? Hidup segan, Mati enggan.

Lantas, apa yang bisa dibanggakan ketika setelah lulus hanya menjadi sekrup kapitalis yang menghambakan diri pada uang dan rela ketika sumber daya negeri ini dikeruk untuk kepentingan asing semata. Apa kalian lupa kalau kalian kuliah disubsidi oleh negara? Uang rakyat itu kawan? Hasil pajak mereka yang berharap negeri ini lebih baik.

Buat saya, percuma belajar mati-matian masuk perguruan tinggi kalau ujung-ujungnya hanya memetingkan isi perut belaka dan tidak mampu berkontribusi untuk bangsa. Sayang banget kawan, bila 4-5 atau bahkan 6 tahun kuliah pada akhirnya hanya menjadi perusak negeri, yang serakah atas kebutuhan dunia.

Atau lebih sadis lagi mereka para koruptor yang menghabiskan hidup untuk merusak moral sosial bangsa. Seharusnya mereka mereka inilah yang di klaim oleh Malaysia bukan budaya Indonesia.

Rakyat negeri ini membiayai kamu kuliah bukan hanya untuk mendapatkan IPK Cum Laude atau terancam Cum Laude. Yakin nih yang IPK nya 4.00 itu benar-benar cerdas? Jangan-jangan mereka cuma seorang robot yang jago menyelesaikan soal ujian, tetapi gamang dalam menghadapi soal kehidupan.

Kamu kuliah di kampus teknik, jadilah teknokrat yang visioner. Kuliah di fakultas hukum, jadilah advokat yang adil. Belajar di jurusan ekonomi, maka jadilah ekonom yang bijak. Atau bila kamu kuliah di kampus pertanian, bangunlah negeri ini dengan ilmu pertanian yang kamu miliki, jangan mangkir dari kompetensi dan malah berpikir untuk menjadi bankir.

Kuliah itu mahal kawan, setau saya di UI sudah Rp.25.000.000, di ITB bahkan ada yang mencapai Rp.50.000.000. Biaya per semester juga sudah semakin besar, lalu apa yang kamu cari setelah lulus? Hanya bekerja sebagai pegawai kah pilihan hidup kamu?

Quote:

Masih banyak anak muda Indonesia yang tidak kuliah. Atau alumni kampus yang katanya beken dan akhirnya memilih untuk bersaing dalam job fair dengan alumni kampus yang katanya ga beken? Gak malu ya sobat?

Yuk kita berpikir #beda , jangan berpikir “mau kerja di perusahaan apa”, melainkan “mau buka lapangan kerja dimana ya”

Saya sering bilang ke mahasiswa ITB, buat apa kamu bangga masuk ITB kalau hanya bisa jadi mahasiswa KUPU KUPU alias kuliah pulang kuliah pulang. Mending kamu sekalian aja pulang ke rumah orang tua kamu. Karena kita kuliah bukan hanya untuk mengejar nilai, kita kuliah untuk menikmati proses pembelajaran diri dalam setiap kesempatan.

Malu lah pakai jaket kuning UI yang katanya keren itu kalau gak peka sama isu sosial masyarakat, hanya mengenal kuliah-kafe-mall saja. Helloo kawan, itu jaket kuning lambang perjuangan, apa kontribusi kamu untuk negara. Kalau kamu sudah berkontribusi untuk negeri, barulah boleh sedikit bangga dengan jaket kuning kamu sobat!

Atau mahasiswa UGM yang terkenal dengan jaket warna karun goni, itu warna kerakyatan, maka segen saya lihat mahasiswa UGM kalau melihat dan memikirkan realita rakyat aja gak mau. Jaket mu itu bukti pengorbanan sobat!

Ah capeklah kuliah itu kalau hanya mengejar Nilai tetapi anti sosial, menjadi manusia robot yang bangga jadi sekrup kapitalis.

Buat kamu yang baru lulus SNMPTN atau segala bentuk ujian masuk perguruan tinggi lainnya. Berani janji kontribusi apa selama jadi mahasiswa? Atau udah cukup bangga dengan label mahasiswa?

Masuk jurusan kedokteran kampus beken, tetapi gak mau praktek di daerah terpencil, hanya mau jadi dokter di kota. Hmm percuma deh, di kota di daerah daerah aja masih kekurangan dokter, di kota dokter menumpuk. Hmm mendingan mundur deh.

Ayolah kawan! Kita MAHAsiswa, ada kata Maha di depan siswa, masa masih sama sama aja konsep berpikirnya dengan mereka yang tidak sekolah. Malu la kita sama tukang bakso yang bisa punya 3 pegawai, mereka yang tidak kuliah aja bisa ngasih makan orang lain, lah mahasiswa? Bangun Idealisme itu kawan, sejak mahasiswa, kesempatan terakhir untuk membangun idealisme itu ada di kampus. Setelah lulus, kalian akan menikmati dunia nyata yang sangat kejam dan pragmatis.

Hidup itu bukan hanya tentang duit, duit, dan DUIT.

Mahasiswa itu #beda!

Yuk kita bangun konsep berpikir yang dewasa. Jangan bangga ke kampus pakai mobil orang tua untuk mejeng sana sini dan tidak peduli dengan lingkungan sekitar, manja dalam belajar serta lemah karakter. Percuma nanti di hari wisuda, para alumni itu hanya menambah daftar pengangguran negeri ini, buat apa kamu kuliah sobat?

Sobat, mari kita maknai dengan #bijak kenapa kita harus kuliah. Ini bukan hanya sekedar mengikuti kebiasaan banyak orang. Tetapi ini tentang upaya membuat diri kita lebih mampu berkontribusi untuk pembangunan bangsa.

Sobat, kamu mau berkontribusi apa selama kuliah?

“Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madyo Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani”

-Ki Hajar Dewantara-

Read More →

Pendidikan Sains UNESA

1 comments
 :))

Profile Sains
PS'11A
Sejarah Singkat: Program studi S-1 Pendidikan sains di Unesa mulai berdiri mulai tahun 2007. Pendirian Prodi berdasarkan Nomor SK pendirian PS : 4905/D/T/2006, Tanggal SK pendirian PS:  21 Desember 2006.  Adapun Pejabat Penandatangan  SK Pendirian PS:  Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.Kepada segenap sivitas akademikanya senantiasa ditanamkan sikap kerja keras, jujur, ikhlas, sabar, berintegritas tinggi, pemikiran positif, rasional obyektif, adil dan berhati bersih sebagai landasan moral pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan ilmu-ilmu keagamaan, menyongsong era globalisasi. Era globalisasi dan informasi menimbulkan interdependensi. Oleh karena itu perguruan tinggi memainkan peran yang menentukan dalam pembentukan kualitas sumberdaya insani suatu bangsa yang menguasi ilmu pengetahuan dan informasi, Program Studi pendidikan Sains tidak lepas dari tuntutan tersebut, dan merasa perlu menata diri dalam meningkatkan keberlangsungan, daya juang, dan daya saing di masa-masa mendatang (sustainable competitive advantage). Prodi Pendidikan Sains berkomitmen menjadi generasi yang unggul dalam pendidikan dan kuat dalam keilmuan.
Visi: Mewujudkan Program Studi Pendidikan Sains yang unggul dan berbasis penelitian dalam menghasilkan tenaga yang kompeten di bidang Pendidikan Sains
Misi:
  1. Menghasilkan  lulusan yang berkepribadian tangguh dan    kompeten di bidang Pendidikan Sains
  2. Mengembangkan pendidikan, pembelajaran yang inovatif dan penelitian di bidang Pendidikan Sains
  3. Mengembangkan ilmu sains  untuk memperkuat Pendidikan Sains yang relevan dengan perkembangan IPTEK dan tuntutan jaman
  4. Mengembangkan pengabdian kepada masyarakat yang dilandasi tanggung jawab sosial kepada masyarakat di bidang Pendidikan Sains
  5. Menjalin kerjasama secara berkelanjutan dengan lembaga pendidikan dan lembaga-lembaga lain baik negeri maupun swasta dan masyarakat.
  6. Menyelenggarakan manajemen Pendidikan Sains yang efektif, efisien,  dan mandiri mengacu kepada standar penjaminan mutu  yang dibakukan
Read More →

Buber 15 Agustus 2012 with D'FOURS4

0 comments
buber with D'FOURS4 :) 15082012


Seeneng rasanya :)
Alhamdulillah... masih diberi kesempatan untuk silaturohim dengan temen-temen kelas XII IPA 4 SMAN 3 JOMBANG

Mau tak mau , disadari atau tidak jelas ada perubahan. Semoga saja perubahan yang baik tentunya. Amiiin
1 hal yang masih tercantol dalam memory 'Bu Lina said ''jangan sia2kan waktu (Al- 'Asr)
1. Demi masa.
2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,
3. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.
Lakukan yang terbaik,sekarang bukan saatnya main-main lagi. ''

Bismillah , SUKSES untuk kita semua ... :)
Read More →

Senin, 20 Agustus 2012

0 comments

Jalan Cinta
by Sherina
Semua resah hati manusiamu
Untuk membagi kisah atas nama cinta
Butir air mata di setiap sujudmu seperti tak pernah cukup untuk menjagaku
Jangan butakan hati menjadi cinta yang semu....oo... Cinta yang semu

Kau hembuskan ayat-ayat cinta untukku
Di sela doa dalam malam-malam yang sunyi

Ampun yang engkau pinta dalam semua keraguan yg tlah meliputi jiwamu
Semoga akan membawa cintamu

Pada diriku dalam jalan dan ridho-Nya
Jangan butakan hati menjadi cinta yang semu...oo... Cinta yang semu

Kau hembuskan ayat-ayat cinta untukku
Di tengah terik matahari dan dinginnya malam
Kau panjatkan ayat-ayat cinta pada-Nya
Melindungi dan menjaga kisah cinta kita
Read More →

Jumat, 10 Agustus 2012

Harapan dan Kekhawatiran | Jamil Azzaini

0 comments

Harapan dan Kekhawatiran | Jamil Azzaini
Read More →

Senin, 30 Juli 2012

Diary Ustadz Yusuf Mansyur

0 comments

Perjalanan Hidup Bersama Allah 1

10 dzulhijjah atau pas hari ‘ied, saya naik motor sama istri ke makam saya punya mertua dan adik ipar. Sebagai anak, ga ada salahnya ngejagain makam orang tua. Ini ga ada urusannya sama bid’ah. Ini sunnah ziarah kubur. Lagian sambil ngebersihin kuburan orang tua.
Alhamdulillah, sababiyah dikasih ujan sama Allah, jalanannya buecek. Naek motor ampe ngesot-ngesot. Saya demen kalo udah mau hampir jatoh. Jadi inget dulu. Duluuuu waktu Ketapang masih beloman diaspal. He he, dulunya kayak udah luama sekali ya? Duluuuuu. Tapi ya iya sih. Saya udah ga muda lagi. Udah 33 taon umurnya. Nikah umur 23 taon. Masuk ke Ketapang, Tangerang dari umuran 14-15 taon. Nikah taon 1999.
Begitu masuk ke pemakaman, saya sempet berbisik sama istri sambil megang tangannya; Kita bersyukur banget ya. Dulu ke makam, jalan kaki. Sekarang bisa naik motor. Dan naik motor bukan karena ga ada mobil. Sebab mobil kagak masuk ke areal pekuburan. Subhaanallaah… Perjalanan hidup. Kayaknya baru kemaren nyiap-nyiapin mie bulet ama mie telor buat dagang mie ayam pake gerobak. Sekarang udah di ujung 2009 dengan keadaan berbeda. Sambil minta doa dari istri supaya bisa makin hari makin tawadhu’. Makin diuji sama dunia, makin banyak pengasihnya sama orang. Makin dimuliakan Allah, makin takut telat shalatnya, dan makin sayang kalo ninggalin sunnah.

Penjaga kubur menyapa; “Kemaren kebobolan ya? Kemana aja itu RW? Depan mata sekali, pada ga tau…”. Kami menjawab dengan senyuman aja. Sesungguhnya apa yg hilang? Kalo asal sebenernya itu engga ada. Semua dari Allah. Jadi ya terserah Allah saja.
Sampe makam persis, mulailah kami mendoakan. Ga jauh, ada Pak Mamat. Tetangga kampung. Dia dan istrinya juga sedang ngebersihin makam.
Ga lama, pas habis do’a-do’a, pamitan sama Pak Mamat yang masih belom rapih ngerapihin makam.
“Dulu, almarhum mertua ente itu temen saya. Temen ngojek… Temen akrab banget… Kalo pas ada yang nurunin kelapa, kita sama-sama berenti dulu ngojek, bantuin nurunin kelapa…”
Pak Mamat melanjutkan, “Alhmarhum mertua biar miskin agamanya kuat banget. Jarang kelihatan ninggal shalat…”.
Ya, saya sudah dengar dari istri saya, bagaimana dia cerita tentang kebiasaan-kebiasaan almarhum mertua semasa hidup. Ihyaa-us Sunnah, benar-benar ada di beliau kayaknya. Amalan-amalan sunnah hidup. Memang mertua tidak menikmati secara dunia apa yg dilakukannya di dunia. Namun anak keturunannya, dan insya Allah saya sebagai mantunya, juga mendapat berkah. Saya menikahi anak yatim, dan istri saya ada adiknya yang jelas juga yatim. Berkah sekali.
Istri saya cerita, biar kata ngojek, beliau ga mau narik menjelang zuhur. Padahal zuhur itulah lagi rame-ramenya juga tarikan. Tapi beliau pulang. Untuk mandi, dan persiapan shalat di mushalla sambil makan di rumah. Bagian yang ini istri saya komentar: “Seri dah. Ngirit. Ngojek juga kalo makan di luar kan keluar duit juga.” Betul juga.
Ini ya. Kebiasaan mandi jelang shalat, duh, saya sendiri jarang bebersih jelang shalat. Jarang tuker pakaian. Apa yang dipakai saat itu, ya itu yang dipakai untuk menghadap Allah. Masya Allah.
Dari istri saya juga, katanya mertua punya amalan-amalan sebelom tidur. Bangun selalu sebelom shubuh. Buat tahajjud dll amalan di waktu sahur. Istri saya selalu dibangunin sebelom shubuh juga. “Kita udah miskin (di dunia), masa mau miskin di akhirat juga. Ayo bangun tahajjud…”.
“Puasanya juga rajin…”
Insya Allah saya percaya banyak orang-orang tua juga yang begini. Makanya bener, berkahnya kemudian mengalir ke anak keturunan dan keluarganya. Dan sering banget juga Allah berbaik hati memberikan Cahaya-Nya buat amal-amal yang dilakukan hamba-Nya ketika di dunia. Hingga kemudian ketika hamba-Nya ini masih hidup pun, Allah sudah naikkan derajat dan ubah hidupnya. Cuma emang rahasia umur, rahasia Allah.
Ketika saya menikahi istri saya, alhamdulillah saya menemukan kesederhanaan keluarga ini. Jika pun kehidupan kami berubah secara materi, mudah-mudahan tetep menampakkan kesederhanaan yang sama. Susah dimengerti memang, yah mudah-mudahan ini adalah Karunia Allah. Bukan “bala” bukan “musibah” dalam bentuk kecukupan. Loh??? Iya, ada juga bala dan musibah berupa kekayaan, kecukupan, kelimpahan rizki, kebagusan pangkat dan kedudukan. Di mana kemudian makin diberi makin kacau kehidupan si penerimanya. Akhirnya jatuhnya lebih sakit lagi.

Penghujung 1999 saya menikahi istri saya. Kamar pengantin, adalah peninggalan mertua. Ya, kamar pengantin adalah kamar di mana istri saya sebagai anaknya, dikelonin hampir saban malam.
He he, istri saya waktu saya nikahi, masih tergolong masih belia. Masih baru 14 tahun. Kelas 3 SMP saat itu. Banyak kenangan beliau sama almarhum ayahnya. Rupanya kedekatan istri saya dan ayahnya itu juga yang kemudian menjadi warisan buat saya. Saya sebagai pengantin baru menempati kamar tersebut. Ranjangnya, ranjang beliau. Kasurnya juga. Kami ga sanggup beli yang baru dulu. Dan lantai kamar kami, masih tanah. Tanpa peluran. Apalagi keramik. Tanpa itu semua. Tanahnya pun bukan tanah rata. Tapi bergelenjur. Bergunduk-bergunduk kecil ga rata.
Dari luasan kamar yang kecil itu, sekotak dialasi dengan karpet plastik rombeng. Buat alas sajadah tipis. Subhaanallaah. Ya, saya mengingat, bukan hanya kasurnya yang tuipis buanget-buanget. Sajadah kami pun sajadah yang tipis. Tapi sungguh, kadang kami merasa air mata ketika di atas sajadah lebih enak jatuhnya saat itu.
Kamar yang nyaris tanpa lemari itu, diwarisi juga oleh kami tolet (lemari rias) zaman dulu banget. Lemari rias tahun 80-an awal. He he he, kata istri saya, itu malah dikasih sama engkong. Sama bapaknya bapak. “Bahkan rumah ini, kalo ga dibikinin engkong, ga ada kali,” kata istri saya.
Jamaah semua. Namanya juga riwayat ya. Mudah-mudahan ada inspirasi. Hidup itu sunnahnya adalah perubahan. Mudah-mudahan Allah tidak menguji kita dengan perubahan keadaan yang tidak sanggup kita semua mengikutinya. Dari miskin ke kaya, kalau engga sanggup mengikutinya, malahan bahaya buat kita. Lebih bahaya ketimbang hidup tetap miskin. Maksudnya, bisa lari dan jauh dari Allah.
Sekedar mengenang keberkahan mertua juga, saya kadang sama istri tertawa. Ini ranjang, ranjang berderit. Mau tau tentang ranjang berderit? Tar aja terusin lagi ya… (Bersambung).

Perjalanan Hidup bersama Allah 2

Kisah masa lalu terkadang asyik diikuti, dikenang, dan diperdengarkan. Sebagai ‘ibrah. Sebagai pelajaran. Ketika pahit itu kenangan, kadang kita mengingatnya sudah dalam keadaan itu kenangan belaka. Ga lebih. Benarlah ungkapan arif kalau sudah begitu: Waktu akan menyembuhkan luka. Dan ketika kenangan manis yang terlintas, sedang kita barangkali dalam keadaan terluka, moga-moga bisa jadi penghibur duka pelipur lara.
Kemaren sampe mana ya? He he he, sampe RANJANG BERDERIT ya?
Itu ranjang pengantin. Tapi ini ga ada kaitannya dengan film horor ya, he he. Ini ranjang pengantin kami.
11 Desember 1999 atau bertepatan dengan 3 Ramadhan, kami melangsungkan akad nikah. Kami berangkat ke Bogor. Ke guru saya. Minta dipersaksikan oleh beliau. Yang menikahkan adalah wali dari Maemunah, istri saya. Saya dipertemukan dan diperkenalkan oleh Allah dalam keadaan istri saya baru beberapa pekan menjadi yatim. Maemunah, 14 tahun saat itu, dan sedang duduk di bangku SMP kelas 3.
Pulang dari Bogor sudah jam 23 lebih. Hampir jam 24 malah.

Setibanya di rumah mertua perempuan (udah jadi mertua, he he he), mertua perempuan langsung masuk kamar. Saat itu saya bingung. Mau kemana ya? He he. Bingung, apa pura-pura bingung? Engga, bingung beneran koq. Saat itu saya duduk di depan ruang tv yang ga bisa disebut ruang tv pada kebanyakannya. Tapi subhaanallaah walhamdulillah. Keadaan itu jauh jauh lebih saya syukuri ketimbang saya di sel dulu. Mertua perempuan masuk kamar. Maemunah, yang saat itu sudah jadi istri saya, juga masuk kamar. Lah? Tinggal saya sendirian di ruang tamu.
Lagi mikirin “nasib”, he he, tiba-tiba Maemunah keluar dari kamarnya bawa bantal. Ya, bawa bantal. Saya tanya, “Mau kemana De?” “Mau tidur,” jawab Maemunah. Tidur di mana? Tanya saya. Tidur sama emak, jawabnya lagi. Ha ha, saya spontan jawab, koq tidur sama emak? Tidur sama Kaka lah. Kan udah jadi istri Kaka.

Asli. Saat itu saya lihat mukanya Maemunah kayak kebingungan. Jangan samain anak perempuan sekarang dengan beliau ya. Anak sekarang mah umur 10 tahun udah gede banget. Gede kelakuannya, he he he. Anak-anak belasan tahun sekarang sudah nenteng-nenteng majalah kosmo dan majalah-majalah gaul lainnya. Lebih cepat dewasanya. Maemunah mah beda. Beliau anak perempuan kampung yang asli sederhana. Sampe sekarang beliau ga berubah.
Didikan ayah ibunya, jam 3-an udah bangun. Shalat tahajjud, zikir-zikir sebentar, dan kemudian menanak nasi, memasak air, dan memulai kerjaan bersih-bersih. Wuah kayak di film-film zaman dulu deh.
Maemunah yang ga suka nonton TV, dari dulunya sampe sekarang, jelas seumurannya ya masih belia sekali. Ditambah dulu itu sinetron ga kayak sekarang. Maka ketika saya todong: Koq tidur sama emak? Ya sama Kaka lah… He he, wajahnya kebingungan. (Bersambung) # eeeiiittt…!!! Koq bersambung lagi? Cerita Ranjang Berderit belom diceritain? Iya. Ntar sekalian. Bersambung dulu ya…


Perjalanan Hidup bersama Allah 3


Habis dijawab tidur sama saya, istri yang kebingungan, tetep sami’naa wa atho’na. He he, saya geli kalo inget ini. Saya pun aslinya kebingungan. Saya masuk ke kamar yang asing buat saya. Diikuti sama istri saya. Sambil bawa bantal di tangannya, he he he. Diikuti istri saya, sebab saya yang duluan masuk.
Kamar dengan lampu 10 watt itu tidak berlantai keramik. Lantainya tanah. Saya lupa apakah saat itu, 1999, Tangerang masih Jabar atau sudah Banten. Dua-duanya, wajar. Wajar apa? Ya, jika Tangerang masuk Jabar, maka Tangerang adalah dulu termasuk ujungnya Jabar. Wajar saja geliat pertumbuhan ekonomi tidak terlalu cantik dilihat. Kalo pun udah masuk Banten, mestilah dulu juga wajar belom kepikiran sebab masih di awal-awal.
Saya mengingat, Kampung Ketapang baru pada punya TV itu tahun 2000. Tahun 1999 hanya 1-2 yang punya. Subhaanallaah kan? Dan mestinya malah alhamdulillah. Adem. Adem ga ada tv, he he he. Ga ketergantungan dengan tv seperti sekarang.
Dulu, di Kampung Ketapang dingin. Tidur malem itu kalo ga pake baju, kedinginan. Itu juga mesti pake kaos kaki. Pohon di mana-mana. Rindang. Kebun-kebun, sawah, masih belom diganti dengan perumahan-perumahan baru nan angkuh, dan kontrakan-kontrakan yang ga berstuktur bangunan dan perwajahannya.
Kalo udah maghrib dateng, senyap sekali. Alhamdulillah ini di tanah Betawi. Banyak anak-anak mengaji, dan suaranya dominan. Hiburan terheboh buat warga kampung saat itu adalah layar tancep. Itu juga buat yang punya duit.
Saya ada di dalam kamar. Dan kamar itu bukan kamar saya. Itu kamar istri saya, peninggalan almarhum ayahnya. Udah gitu, sekarang saya udah jadi suami! Woooyyyy…. Saya udah jadi suami. Gemeteran. Asli. Ga tahu musti ngapain.
Istri saya itu diceritakan oleh ibunya, dan oleh nenek-neneknya adalah termasuk anak perempuan kampung yang selalu menjaga pandangannya. Tangannya pun tidak pernah menyentuh dan disentuh laki-laki yang bukan muhrim. Selain tentu saja suasana gadis kampung beda dengan gadis-gadis sekarang. Sekarang bisa jadi udah ga ada batasan kampung lagi. Relatif sudah maju, dan malah sudah terpengaruh dengan tv. Dan tentu saja, karena faktor usianya Maemunah. Baru 14th. Baru kelas 3 SMP.


Maemunah cerita ke saya, kalo beliau itu baru tahu wajah saya setelah 6(enam) bulan menikah. Beliau cerita, beliau ga pernah berani mandang wajah saya.
Jangan nanya tentang “malam pertama” ya… He he, puanjang perjalanannya. Beda lah dengan anak-anak sekarang. Malam pertamanya langsung jadi. Bahkan ada yang malam pertamanya jauh sebelom akad! Astaghfirullah. Tapi ya itulah kenyataan.
Sungguh saya saat itu saya mau mengadu, bertanya. Tapi ga tahu musti nanya siapa.
Apa pertanyaan yang mau ditanya? Sampe-sampe koq ga tahu musti nanya siapa?
Ya, sebab malu nanyanya. Pertanyaan seputar gimana caranya “ibadah” dengan istri. Ga paham dari mana mulainya. Duh. Saya tidur bersama dengan doa. Doa agar rumah tangga kami menjadi rumah tangga yang aman dari kejaran hutang dan permasalahan.
Loh? Koq to the point gitu?
Masya Allah. Kalo saya mengenang, saya itu masuk ke gerbang pernikahan dengan deg-degan. Belom saatnya saya berumah tangga. Dan itu lebih disebabkan bukan karena umur Maemunah. Tapi lebih pada diri saya masih banyak masalah hutang dan persoalan-persoalan hidup yang pelik buat saya. Nyangkut urusan perdata dan pidana.
Tapi saya kasih tahu istri saya dan mertua, bahwa insya Allah dengan ibadah dan doa, semua insya Allah bisa dilewati.
(bersambung).

 

Perjalanan Hidup bersama Allah 4


“Sayur Oyong Bening sama Sambel”
Ranjang berderit. Ini ditanyakan bahkan oleh adik saya mengupload tulisan ini. Ya ranjang berderit ini barangkali karena tempat tidur tua kali ya. Masya Allah, nbaru naikin kaki satu aja atau naro badan dikit, ini ranjang udah bunyi: Ngeeeek……Ngiiiiik….
Zaman engkong Nadi babehnya mertua saya, dua2nya udah almarhum, ini ranjang udah ada. Kebayang kan tuanya. Tapi tetap saya syukuri. Diranjang inilah ” Huurun iin”, Permata saya.  Istri saya maemunah. yg kejaga pandangannya. Kejaga matanya. Kejaga juga tangan dan kakinya.
Subhanallaah…deh. Istri saya ini memang Subhanallaah.. kayak negeri dongeng. Dia ga pernah megang dan dipegang laki2. Karena mungkin umurnya. Saat itu baru 14 th. Tapi memang sih, 14 TH nya anak sekarang seperti saya bilang tempo hari, ya beda banget. Sebagai anak  kampung, Maemunah kejaga. Sama seperti anak2 yang lain. Beruntunglah ketapang. Sebagai kampung kecil di pinggiran mentok Jawa Barat. TV baru ada di sono tahun-tahun 1990.  Lumayan selamat dari pengaruh TV saat itu. Hanya satu dua orang kaya. Kalo ga juragan telor, juragan ayam, ya pak haji yang pergi haji pake jual tanah lalu besisa uangnya. Selebihnya, masyarakat petani dan pekebun. Kalaulah mereka ada duit, mereka pasti sudah akan memilih ditabung buat makan anak2nya, atau ditabung buat beli pupuk dan obat2an besawah dan beladang.
Sekarang perubahan nih kampung kelewat cepet. Perumahan meringsek, seiring dengan jadinya propinsinya banten. Tanggerang menggeliat. Ada sisi negatifnya. Embun pagi udah ga ada. Kabut sore hari juga udah gak ada. Dulu suara kodok,  jangkerik,  murah di dengar. Sekarang ?, wuah langka banget. Tokek juga jarang, Dulu nih ya uler aja keluar masuk rumah, biasa.
Kita-kita lagi nongkrong nih di depan rumah, diatas bale, dibawah pohon mangga 3 uler lewat begitu saja depan kami2. Menghentikan sejenak obrolan kami2. Tentu saja tanpa permisi hehehe. Yang namanya kodok masuk rumah, jangan ditanya dah. Ihhh, ceritanya kayak dimanaaa gitu yaa, tapi percaya atau tidak, sebagian Jakarta saja, 1995-1999 masih kayak gitu deh. Yakin. Sekarang mah kontrakan dimana-mana berdiri. Indomaret, Alfamart, bahkan Giant dan Carefour udah masuk kampung.
Istri saya dibesarkan di kultur Betawi yang pagi siang malam, mengaji. Sebagai gambaran nih ya, istri saya pendiam. Asli pendiam. Surabaya-Banyuwangi, yang pake bus bisa 8 jam, yakin, huruf a juga ga keluar dari mulutnya. Dia bilang, dia gak bisa ngomong. Bukan gak suka ngomong.  Kawan-kawannya bilang, kalo ngerumpi, ga bisa ngajak si Nunun ( Panggilan kawan-kawan istri ke istri saya ). Ga seru. Ga pernah nimpalin.
Wah, kok jadi muji2 istri ya? Ga apa2 deh. Emang layak dipuji. Masaknya juga jago. Bikin sambelnya mantab. Istri saya ini juga wasilah saya semangat mencari rizki. Yah, para istri sangat berperan memberi semangat mancari rizki sebelom nikah, saya pernah silaturahim ke rumah istri. Sekitaran Agustus 1999. Waktu itu saya pulang ngajar di salah satu Madrasah di ketapang. Maenlah saya kerumah beliau Camer, Calon mertua, Saya ditawarin makan.
“Nun ,  kakanya sediain makan. Punya apa tuh kita?”,  saya senang tp yang ditanya gelagapan. Sebab barangkali tahu, ni emak maen nawarin aja, ga mikir ga ada apa2. Gitu tuh cerita istri di kemudian hari.

Alhamdulillah, ternyata ada menu kesukaan saya. Sayur Oyong bening, alias a ada apa2nya lagi..Engga ding. Yah namanya aja udah sayur Oyong bening. Ya emang ga ada apa2 kecuali ya Oyongnya. Tapi di sebagian keluarga betawi yang berkecukupan, sayur oyong ini ditambah bakso, udang, tahu,  dll. Tapi ya tetap alhamdulillah. Saat itu, makanannya saya, 1 Indomie buat 8 orang. Ya, saya tinggal dirumahnya Bang Herman. Abang2an saya. Dia anaknya 5. Sama saya jadi enam. Plus dia dan istrinya, 8. Karena serba  pas2an,  kadang lauknya itu mie rebus 1 bungkus. Yg penting Nyium wanginya. Gitu. Atau kaloi malam beli nasi goreng sebungkus kemudian dicampur nasi putih buat dimakan ber-8. jadi kl ada sayur oyong, wah itu udah barang langka buat saya.
Siang itu, saya dapet menu tambahan istimewa.  Ada sambelnya Alhamdulillah, nikmat sekali. Emang ya jamaah, kalo ukurannya adalah ukuran bawah, maka segala nikmat yg terhidang niscaya bs disyukuri. Ada 1 kejadian, sblm makan, yg menjadi pemacu saya mencari rizki, dan sy inget sepanjang masa… ( Bersambung )


Perjalanan Hidup bersama Allah 5


” Ga ada bangku lagi”
Kalo buat orang betawi, pantangan makan sambil berdiri. Jangan kata makan besar, makan2an ringan aja, pantangan berdiri. Bahkan minum. Minum pun kalo bisajangan berdiri.  Kemaren masih inget ya saya ditawarin makan?. Jadilah tuh saya makan. Saya masuk kedapurnya pertama kali semua lantainya tanah. Hanya ada 1 ruangan keramik. Yaitu tuang tamu. Masih tergambar dengan jelas oleh saya bentukan ruang tamu. Sofa rombeng menghias uang tamu, hehe. Sofa somplak kamimenyebutnya. Tp didudukinnya enak. Sebab kali halal belinya. Disitu mertua sama sodara2nya ngumpul2, sambil nyari kutu, hehehe.
Iya, agenda nyari kutu udah dak ada ya sekarang mah. Padahal jg kalo saya tanya mertua, gak ada juga kutunya. Cuma iseng aja. Ngebersihin pake tangannya beliau punya anak atau punya sodara. Tar ganti2an.
Setelah siap makan siang dihidangkan, saya kedapur
” Pake sendalnya…” kata pemilik rumah. Ya sebab sekeliling ruangan yg lain masih tanah. Kudu pake sendal. Alhamdulillah saya diambilkan bangku. Bangku ditarik, dan saya dipersilahkan makan. Maemunah juga mau makan.  Saya lihat dia makan sambil berdiri, spontan saya menegur…”De makan koq sambil berdiri…Duduklah”
Jawaban maemunah membuat hati saya pilu.
Jadi nyesel saya nanya.
Emang jawabannya apaan?
Jawaban Maemunah, ” Ga ada bangku lagi..ka”. Datar
Saya sontak ngelihat kekiri dan kekanan. Ya ga ada bangku lagi. Alias bangku yg saya pakai buat duduk inilah satu2nya.  Bangkunya bekas anak SD Negeri. Dari kayu. Dan bnr2 ga ada bangku laen!
Asli. Saya nyesel udah nanya. Nanya bukan nanya, tp negor negor kenapa makan sambil berdiri. Tp di situ tuh. Disitu saya membara di dada, dihati dan pikiran. Kalo emang ditakdirin menikah dgn Maemunah ini saya mau nyenengin.  Tau gak?, sederhana sekali saat itu keinginan saya, mau beliin bangku hehehe.  Saat itu saya tau diri. Ekonomi saya terlilit hutang, keadaan yg belum lagi normal, membuat saya hanya bisa berdoa semoga Alah mewujudkannya.

Dalam perjalanannya, saya kerap menasihati yg muda2, yang mau menikah. Nikah itu seperti hidup dan kehidupannya. Modalnya jangan duit. Tp iman dan ibadah, dan kebersamaan. Banyak anak2 muda yang berlimpah hidupnya, namun keberlimpahan itu malah membuatnya rapuh gak kuat. Banyaknya karunia, malah kemudian membuatnya boyor. Hidup serba ada diawal nikah itu, tidak selalu menjadi indah. Malahan bisa jadi awal bagi neraka kecuali dipegang sama yang hatinya kuat danbagus. Atau memang itu harta yg dibawa oleh si pasangan muda sebelomnya menikah, dan diperoleh dari keringatnya. Yg begini ini nih akan menjadi nostalgia disaat rumah tangga perlu pasangan yg kuat agar tidak gampang bubar.
Di awal2 saya menikah dan tinggal dirumah ini saya sering takjub. Karena bentuknya yg masih rumah jaman dulu, banyak binatang2 datang dengan damainya kerumah. Dan penghuninya pun tidak menanggapi terlalu gimana gitu. Pintu depan berongga, alias gak sampe tanah. Mungkin salah ngukur waktu belinya, kali gt. Sehingga kodok bisa dgn nyantainya masuk. Anak ayam aja nyelos, termasuk jg kucing. Bahkan Uler. Yg ini udah saya ceritain kemarenan, kisah yang lalu.
Juga karena ga make eternit, dan tembok kanan kiri rumah juga menyisain lobang sekitar 50CM, membuat uler2 kebon bisa seenaknya ngaso ngelingker di bumbungan eternit dari bambu gitu. Kalo lagi makan, seenaknya juga kadang kodok nontonin kami makan, hehehe. Belom uler yg ga pake permisi, Di rumah bang herman pun gitu, Bang Herman juga rumahnya setengah jadi sekelilingnya sawah ya keadaannya pun hampir rada sama.
Dan saya bersyukur saya pun terbiasa juga, rumah orang tua kami, di Bekasi bertahun2 ga kebangun. Tahu kan tipe 21 perumnas jaman dulu kayak apa dulu belinya?.
Ya kayak gitu,
jangan dibayangin kayak perumahaan jaman sekarang. Kalo perumahan jaman sekarang malah banyak yg udah full Furnished. Tapi kalo jaman dulu ya rumah batako, pengembangan diserahkan sm pembelinya. Rumah  orang tua kami, ya rada2 miriplah. Bedanya di perumnas.
Semua saya syukuri. Ketika sekarang Allah berikan banyak rizki, banyak hikmah yang kami dapat. Selain bersyukur, hikmah lainnya adalah kami bisa memotivasi adik2 kamu, sodara2 kami, kawan2 kamu, bahwa sungguh menikah itu modalnya bukan uang. Besok2 dah ya saya terusin lagi ceritanya. Bagaimana saya memulai pernikahan di th 1999 itu dgn modal 500rb rupiah. Orang sekarang merasa menikah itu perlu duit yg banyak. Baik buat biayanya maupun tetek bengeknya. Akhirnya kemuliaan pernikahan sbg ibadah berdua, yang tadinya sendirian,  malah menjadi hal yg gak diperhatiin lagi. Ok, terusin nanti ya. ( To be Continued )

Perjalanan Hidup bersama Allah 6

Pernah saya tunjukkan kepada istri saya, sebuah riwayat indah pasangan abadi sepanjang masa :
Sayyidatinaa Fathimah dan Sayyidina Ali. Seseorang yang pernah saya rindukan wajahnya untuk saya lihat.
Dulu saya pernah mengaji tentang imam Ali. Beliau kata guru saya diriwayatkan tidak pernah melihat kemaluannya, dan karena itu beliau digelari Karromawloohu Wajhah, wajah yang dimuliakan Allah. Tentu lepas dari itu, sebab memang beliau sangat menjaga mata, menjaga pandangannya.
Nah suatu hari saya tunjukkan satu riwayat tentang istrinya, yakni Sayyidatinaa Faathima Rodhiyallahu’ anhaa, Suatu hari, Fatimah berkata kepada suaminya. Perkataan Fatimah ini membuat saya hampir menangis, “Jika aku mati begitu kata Fatimah, “Mandikanlah aku dengan tanganmu wahai suamiku. Berikan bidara dan kafani aku, serta kuburkanlah aku diwaktu malam. Jangan sampai ada yang memandikan aku kecuali engkau wahai suamiku, dan jangan ada yang menyaksikan perkuburanku. Aku tidak menambah wasiatku dan aku titipkan engkau wahai suamiku kepada Allah sampai aku bertemu dengan mu kelak.. Jama’awloohu baini wa bainaka fii daarihii wa qurbi jiwaarih, Semoga Allah mengumpulkan aku dan engkau suamiku di Rumah-Nya dan di sisi-Nya. Dan istri saya pun berkaca-kaca matanya ketika saya katakan lembut kepadanya bahwa saya pun akan memegang wasiat ini kalau beliau menutup matanya kelak. Kecuali barangkali soal penguburan yang tidak mungkin zaman sekarang tidak ada yang tidak mengetahuinya.
Pergantian tahun 1430 H ke 1431 H sudah berlangsung. Dan pergantian tahun 2009 ke 2010 pun sudah akan kembali menjelang. Diantara muhasabah semua manusia di muka bumi, selain ia sebagai anak bagi orang tuanya, orang tua bagi anaknya, saudara bagi saudaranya, kawan bagi kawannya, adalah juga ia sebagai suami atau istri pasangannya. Selamat merenungkan apa ada kesalahan kita sebagai manusia kepada orang yang begitu sangat dekat dengan kehidupan kita. Salam buat semua belahan Jiwa.
Yusuf Mansur
Read More →

7 perkara ganjil

0 comments

Terdapat seorang pemuda yang kerjanya adalah menggali kubur dan mencuri kain kafan untuk dijual. Pada suatu hari, pemuda tersebut berjumpa dengan seorang alim/ahli ibadah untuk menyatakan kekesalannya dan keinginan untuk bertaubat kepada Allah s.w.t.

Dia berkata, “Sepanjang aku menggali kubur untuk mencuri kain kafan, aku telah melihat 7 perkara ganjil yang menimpa mayat-mayat tersebut. Lantaran aku merasa sangat insaf atas perbuatanku yang sangat keji itu dan ingin sekali bertaubat.” Yang pertama, aku lihat mayat yang pada siang harinya menghadap kiblat. Tetapi apabila aku menggali semula kuburnya pada waktu malam, aku lihat wajahnya telahpun membelakangkan kiblat. Mengapa terjadi begitu, wahai tuan guru?” tanya pemuda itu.

Wahai anak muda, mereka itulah golongan yang telah mensyirikkan Allah s.w.t. sewaktu hidupnya. Lantaran Allah s.w.t. menghinakan mereka dengan memalingkan wajah mereka dari mengadap kiblat, bagi membezakan mereka daripada golongan muslim yang lain,” jawab ahli ibadah tersebut.


Sambung pemuda itu lagi, “Golongan yang kedua, aku lihat wajah mereka sangat elok semasa mereka dimasukkan ke dalam liang lahad. Tatkala malam hari ketika aku menggali kubur mereka, ku lihat wajah mereka telahpun bertukar menjadi ****. Mengapa begitu halnya, wahai tuan guru?”

Jawab ahli ibadah tersebut, “Wahai anak muda, mereka itulah golongan yang meremehkan dan meninggalkan solat sewaktu hidupnya. Sesungguhnya solat merupakan amalan yang pertama sekali dihisab. Jika sempurna solat, maka sempurnalah amalan-amalan kita yang lain,”

Pemuda itu menyambung lagi, “Wahai tuan guru, golongan yang ketiga yang aku lihat, pada waktu siang mayatnya kelihatan seperti biasa sahaja. Pabila aku menggali kuburnya pada waktu malam, ku lihat perutnya terlalu gelembung, keluar pula ulat yang terlalu banyak daripada perutnya itu.”

Jawab ahli ibadah tersebut “Mereka itulah golongan yang gemar memakan harta yang haram, wahai anak muda,” balas ahli ibadah itu lagi.

Golongan keempat, ku lihat mayat yang jasadnya bertukar menjadi batu bulat yang hitam warnanya. Mengapa terjadi begitu, wahai tuan guru?”

Jawab ahli ibadah itu, “Wahai pemuda, itulah golongan manusia yang derhaka kepada kedua ibu bapanya sewaktu hayatnya. Sesungguhnya Allah s.w.t. sama sekali tidak redha kepada manusia yang menderhakai ibu bapanya.”

Ku lihat ada pula mayat yang kukunya amat panjang, hingga membelit-belit seluruh tubuhnya dan keluar segala isi dari tubuh badannya,” sambung pemuda itu.

Anak muda, mereka itulah golongan yang gemar memutuskan silaturrahim. Semasa hidupnya mereka suka memulakan pertengkaran dan tidak bertegur sapa lebih daripada 3 hari. Bukankah Rasulullah s.a.w. pernah bersabda, bahawa sesiapa yang tidak bertegur sapa melebihi 3 hari bukanlah termasuk dalam golongan umat baginda,” jelas ahli ibadah tersebut.

Wahai guru, golongan yang keenam yang aku lihat, sewaktu siangnya lahadnya kering kontang. Tatkala malam ketika aku menggali semula kubur itu, ku lihat mayat tersebut terapung dan lahadnya dipenuhi air hitam yang amat busuk baunya,”

Wahai pemuda, itulah golongan yang memakan harta riba sewaktu hayatnya,” jawab ahli ibadah tadi.

Wahai guru, golongan yang terakhir yang aku lihat, mayatnya sentiasa tersenyum dan berseri-seri pula wajahnya. Mengapa demikian halnya wahai tuan guru?” tanya pemuda itu lagi.

Jawab ahli ibadah tersebut, “Wahai pemuda, mereka itulah golongan manusia yang berilmu. Dan mereka beramal pula dengan ilmunya sewaktu hayat mereka. Inilah golongan yang beroleh keredhaan dan kemuliaan di sisi Allah s.w.t. baik sewaktu hayatnya mahupun sesudah matinya.” Ingatlah, sesungguhnya daripada Allah s.w.t kita datang dan kepadaNya jualah kita akan kembali. Kita akan di pertanggungjawabkan atas setiap amal yang kita lakukan, hatta walaupun amalan sebesar zarah.

Setelah anda membaca kisah ini. Sampaikan atau hantarkan kepada sahabat dan rakan-rakan anda. Mudah-mudahan amalan baik yang sedikit ini diambil kira oleh Allah Taala di Akhirat kelak. Amin.


Read More →

Kamis, 05 April 2012

jejak ku :')

0 comments
SAAT Khilaf (tidak sadar kalau putus asa adalah dosa)

ALLAHUAKBAR,Allah Maha Besar,memujaMu begitu indah...
Hanya mu’jizat yang membuat aku lulus SNMPTN (jika mungkin terjadi)
Surabaya,28 Mei 2011

Aku tak sadar dimana aku melangkah saat ini,
tak ada kesiapan dan persiapan.
Keinginan untuk biasa menerobos kampus UM pupus sudah.SNMPTN UNDANGAN BIDIKMISIKU DITOLAK.
Saat tanggal 18 Mei itulah serasa lagit runtuh ke tubuhku,
tak ada lagi semangat,tak ada lagi senyum,yang ada hanya :’(
Banyak yang berusaha memotivasiku,
Tapi apakah mereka bisa merasakan apa yang aku rasa?TIDAAKK...
2 hari sebelum pengumuman sepertinya Allah telah memberi petunjukNya.
Badan panas dingin.
Rasa pd yang sangat untuk lolos ternyata telah berhasil membuatku *******.Astagfirullah.
Aku lupa bahwasannya Allah selalu ada,
tidak pernah luput dalam mengawasi hambaNya.Puncaknya saat ini...ya,saat ini.
Bingug dalam melangkah
Subhanallah..
Disyukuri saja yang terjadi.Mudah-mudahan hikmah yang menyertainya jauh lebih indah.


Surabaya,30 Mei 2011

Orang paling tidak berguna.
SNMPTN Undangan Bidik Misi di UM gak lolos
 sekarang malah milih Unesa yang katanya tidak ada Bidik Misi SNMPTN Tulis.
dilema besar.
Hanya bisa menyusahkan orang tua dan teman.
Tesnya numpang di rumahnya temannya temanku,tak ada persiapan untuk tes.
Ya Allah Ya Robb.
Detik ini adalah titik puncak ketidakbergunaanku.
Hanya bisa menyusahkan .
Seandainya ketrima nanti Cuma bisa menyusahkan orang tua untuk membayarnya.
RENCANA apa ini Ya Allah???
Sampai detik ini aku masih belum yakin dengan takdir ini.
JalanMu sunguh-sungguh gelap menurutku...
Semakin suram sekarang.
Waktu seakan berjalan semakin lama sampai tesnya selesai.
Aku ingin ini cepat berlalu.
Harus bagaimana lagi hamba memohon Ya Allah...(sampai-sampai tak tahu cara memohon lagi,Astagfirullah).
Mungkin orang mudah mengatakan’Ayolah pasti ada jalan’.
Menurutku itu sangat-sangat sulit.
Apa aku bisa menjangkaunya???

@unipra
Mu’jizat itupun NYATA
Subhanallah .KemahasempurnaanMu membuatku semakin mengenal Engkau.

Setelah tes itu usai aku mulai merenung mengoreksi diri.
Mungkin niatku yang salah,atau apalah.
Yang jelas intinya saat itu saya semakin tidak egois.
Yang duluya berapi-api ambil prodi itu,sekarang mulai mengembalikan semuanya pada Sang Pemilik Hidup.
Yang jelas dalam setiap doaku yang dulunya “Ya Allah mudah-mudahan saya di trima di UM” sekarang mulai hijrah menjadi “Ya Allah Ya Robb berikan yang terbaik menurut Engkau pada hambaMu ini.Jika memang pilihan hamba ini baik menurut Engkau maka permudahlah jalan hamba..Jika sebaliknya maka berikan jalanMu yang lain.Hamba serahkan semua kepada Engkau”.
Jujur, prediksiku hanya 25% ketrima dan 75% tidak ketrima.
Sama dengan awal,Bahwa Mu’jizatNya yang membuatku ketrima.

Sungguh saat itu,tangan gemetar tak karuan ,
bibir hanya bisa mengucap syukur.SAYA DITRIMA.
Sampai di rumah saat aku critakan itu
aku dan ibuku hanya bisa menangis syukur.
Allah telah menunjukkan Kemahasempurnaanya.
Hal hal cobaan lain setela itupun tak luput lagi.
Mulai dari ibu yang sakit di RS,transportsi untuk daftar ulang,biaya(saya masih ragu ditrima apa tidak bidik misinya).
Hanya Bonek saya daftar ulang,rasa takut karena jujur saya tidak membawa uang sejumlah nominal untuk daftar ulang,
(bukan tidak membawa,lebih tepatnya belum ada).
Hanya pasrah saat memasuki kampus yang saya rasa sangat megah itu.
Ya UNESA.
Subhanallah saat menghadap daftar ulang ternyata tak ada sepeserpun nominal yang saya keluarkan,
kecuali untuk membayar materai tempel Rp 6000,-.
Yang ada hanya rasa syukur yang malah akhirnya saya semakin tertarik untuk lebih mengenal Islam dan Allah.
Ini awal dari semuanya.
Ternyata semua yang saya jalani sampai sekarang banyak hikmah besar yang menyertainya.
Mulai dari awalnya hanya mencari tempat tinggal hingga akhirnya ditempatkan di tempat yang barokah ini.
Subhanallah aku mulai menyadari bahwa Allah memilhku disini pasti ada maksud, bukan tanpa alasan.
Hal itu yang sampai saat ini masih terus saya galih.
Hingga akhir semester 1 ini banyak perjuangan-perjuangan ,jungkir balik,air mata dll yang telah saya keluarkan.Hingga 2 kejadian yang membuat saya merasa down...




“SEBERAPAPUN INDAHNYA RENCANA KITA,JAUH LEBIH INDAH RENCANA ALLAH UNTUK KITA”(sepenggal motivasi dari vidio DANANG AP,pembuat jejak?)

Read More →

Followers